DJI ingin membuat semua orang bisa menerbangkan drone. Setidaknya itulah pesan yang ingin disampaikan oleh DJI ketika meluncurkan varian terbaru mereka: Spark.

Drone ini merupakan drone selfie terkecil yang pernah diproduksi DJI yang dilengkapi dengan berbagai macam teknologi canggih seperti: PalmControl, kemampuan untuk melacak subyek, mampu dikontrol dengan ponsel pintar, dan teknologi canggih DJI lainnya.

Pertanyaannya kini, apakah dengan semua teknologi canggih itu, Spark memiliki kemampuan yang sama dengan drone produksi DJI lainnya seperti Mavic Pro maupun Phantom?

Untuk bisa menjawab pertanyaan itu, hal pertama yang perlu diketahui adalah apa kebutuhan yang kita inginkan dari drone tersebut. Jika kamu membutuhkan drone berukuran kecil untuk kebutuhan selfie tanpa harus merasa was-was dalam menerbangkannya, maka Spark adalah jawabannya. Namun, jika kamu lebih ingin sebuah quadcopter kecil, lebih kuat, dan sedikit lebih mahal, maka Mavic Pro adalah pilihan yang tepat.

Menyoal kekuatan terbang, agaknya Spark memang sedikit kurang baik. Pada sebuah eksperimen memperlihatkan sebuah botol dilemparkan ke arah Spark hingga membuatnya jatuh ke tanah dan tidak dapat mempertahankan posisi terbangnya. Hal ini tentu berbeda dengan produk DJI lainnya yang masih tetap bisa terbang ketika terkena sebuah proyektil.

Sebagai sebuah selfie drone, Spark dilengkapi dengan kamera dengan sensor CMOS 1/2.3-inchi beresolusi 12 megapiksel. Sensor kamera Spark ini bahkan lebih besar dari kamera yang dimiliki iPhone 7. Dengan lensa fixed 25mm f/2.6, kamera pada Spark mampu menghasilkan video berkualitas full HD 1080p pada 30fps. Memang kemampuan ini sedikit di bawah kamera yang ada pada Mavic Pro yang mampu merekam video dengan kualitas 4K, tetapi hal ini murni karena kedua drone ini dibuat dengan tujuan spesifik yang berbeda.

Dan sebagai sebuah selfie drone, kamu tidak butuh waktu terlalu lama untuk bisa menerbangkan Spark. Sebagai gambarannya begini: kamu cukup mengeluarkannya dari sakumu, menyalakannya, dan menerbangkannya dari telapak tanganmu menggunakan fitur PalmLaunch, yang ke semua proses ini membutuhkan waktu kurang lebih 10 detik saja. Hal ini tentu saja akan membuatmu tidak pernah melewatkan momen-momen spesial yang tidak akan pernah terulang.

Spark ditunjang dengan VPS yang membuatnya mampu terbang melayang di dalam ruangan dan memiliki sistem pemosisian satelit GPS/GLONASS yang membuatnya mampu terbang dengan stabil di luar ruangan. Performa ini ditunjang dengan daya tahan baterai yang mampu membawa Spark terbang dalam waktu 12-15 menit, tetapi angka ini sangat relatif karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi seperti misalnya kecepatan angin dan juga tingkat keagresifan dalam menerbangkan Spark. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mengisi daya baterai Spark dari 0% hingga penuh.

Ukuran yang kecil menjadi salah satu keunggulan Spark ketika digunakan untuk mengambil gambar di dalam ruangan, hal ini berkat gimbal 2-axisnya. Namun, ketika terbang di luar ruangan dan dalam kondisi berangin, Spark sedikit susah dalam mempertahankan posisi terbangnya dan mungkin akan mengalami gerakan-gerakan goyangan yang akan mempengaruhi kualitas rekaman yang kamu ambil. Hal ini tidak akan terjadi jika kamu menggunakan Mavic Pro maupun Phantom Series karena kedua drone ini menggunakan gimbal 3-axis.

Namun, luar biasanya dari Spark, walaupun ketika terbang di lingkungan yang berangin kencang, Spark ini memiliki kemampuan untuk kembali ke posisi semula ketika ia terhempas angin. Mini Quadcopter ini juga mampu terbang dengan baik di bawah guyuran hujan gerimis. Tetapi, memang tidak disarankan untuk menerbangkan Spark dalam kondisi seperti itu apalagi jika kamu sedang merekam video.

Spark juga memiliki sistem propulsi yang kuat. Perputaran props yang begitu cepat mampu memotong kulit pisang, balon, dan cabang pohon dengan begitu mudah. Sistem propulsi ini juga mencegah Spark jatuh setelah props menabrak sesuatu. Spark tidak mampu terbang terbang jika salah satu dari baling-baling mereka hilang, tidak seperti Mavic Pro atau Phantom 4 Pro yang masih bisa terbang walaupun satu props nya lepas.

 

Keunggulan lain dari Spark dibanding drone lain adalah bahwa kamu bisa menerbangkan drone ini tanpa harus menggunakan remot kontrol. (Remot kontrol dijual terpisah, atau kamu bisa membeli paket combo yang berisi Spark + Remot Kontrol). Kamu cukup menggunakan Aplikasi DJI GO 4 yang ada pada ponsel pintarmu untuk bisa memaksimalkan potensi dari Spark ini.

Rasanya karena dengan durasi terbang yang relatif singkat –12 sampai 15 menit– penggunaan DJI GO 4 untuk mengganti mode pengambilan gambar, mengaktifkan mode-mode penerbangan pintar, merupakan sebuah hal yang benar-benar tepat. Penggunaan aplikasi DJI GO 4 ditambah iPhone 7 dapat membuat Spark terbang dengan jarak maksimal 70 meter (jika dengan remot kontrol jarak terbang maksimal bisa sampai 1,9 km).

Walaupun masih terlihat belum sempurna, aplikasi ini nyatanya dapat banyak membantu dalam mengedit video seperti menggabungkan beberapa potongan video dan menambahkan musik serta video transisi dengan menggunakan fitur editor yang ada pada DJI GO 4.

Kesimpulan

Drone yang ideal itu tetap tergantung akan kebutuhanmu. Dan, jika membahas selfie drone yang ada di pasaran seperti Dobby, Yuneec Breeze, dan Spark. Maka Spark lah jenis selfie drone yang lebih unggul. Hal ini didasarkan pada beberapa kriteria penilaian di atas, mulai dari kemudahan untuk dibawa, mode kontrol, kemampuan terbang di dalam ruangan dan di luar ruangan, durasi penerbangan, sampai fitur editing video. Untuk para penggemar selfie drone yang tidak ingin merogoh koceknya terlalu dalam, rasanya tidak ada pilihan lain selain Spark ini.

 

Comments

comments

%d blogger menyukai ini: