Tahun ini public banyak mengasumsikan bahwa GoPro Karma akan menjadi drone tercanggih yang pernah dibuat terbantahkan. Hal ini karena dalam waktu kurang lebih 7 hari setelah diumumkannya GoPro Karma, pada September, DJI mengeluarkan produk drone canggih mereka, Mavic Pro.

Mavic Pro akan menjadi drone DJI terkecil sampai saat ini dengan kemampuan yang dapat menghasilkan video dengan kualitas 4K, drone ini muncul 5 bulan setelah pendahulunya, Phantom 4. DJI Mavic Pro ini kemudian menjadi drone terlaris yang pernah ada dan mengalahkan pangsa pasar dari GoPro Karma.

Kami membuat sebuah ujicoba untuk membandingkan drone mana yang mampu tampil lebih baik dalam solo action antara Airdog drone, GoPro Karma, dan Mavic Pro. Solo action yang kami maksud adalah kemampuan drone dalam mengambil foto dan merekam video selfie tanpa bantuan pilot lain untuk mengontrol drone.

Dari hasil ujicoba ini, kami membuat sebuah ulasan (review) mengenai DJI Mavic Pro dari awal hingga akhir. Jadi. Mari kita mulai.

Di Dalam Boks:
Ada dua pilihan yang kamu dapatkan ketika membeli DJI Mavic Pro, pertama yaitu model standard dan yang kedua adalah Mode Combo Bundle. Jika kamu membeli Mode Combo Bundle ini, selain bagian utama seperti drone dan remot kontrol, kamu juga akan mendapatkan 2 ekstra baterai dan 2 set props.
Di dalam boks Combo Bundle ini, kamu juga akan mendapatkan Car charger, Battery charging hub, dan sebuah adaptor yang bisa kamu gunakan untk mengisi daya ketika sedang berada di mobil atau di rumah.
Gambar di bawah ini menunjukkan semua bagian yang bisa kamu dapatkan ketika membeli DJI Mavic Pro Combo Bundle.

Berat & Ukuran

Berat total dari sebuah DJI Mavic Pro adalah 1.055 gram. Berat itu sudah termasuk berat remot kontrol yaitu 316gram dan drone dengan props terpasang 739gram.
Jika kita bandingkan dengan berat GoPro karma, dengan baterai dan kamera/gimbal terpasang misalnya, beratnya sudah mencapai 1.941gram. Berat remot kontrolnya sendiri adalah 626gram dan jika digabung maka berat GoPro Karma secara keseluruhan mencapai 2.529gram.
Kemudian jika kita bandingkan dengan Airdog yang mempunyai berat keseluruhan 2.135gram dan berat remot kontrol sebesar 113gram.
Dan berikut ini jika kita membandingkan ukuran dari GoPro Karma dengan DJI Mavic Pro
Dari semua itu, kita tentu bisa sangat yakin bahwa jika dibandingkan dengan GoPro Karma dan Airdog, DJI Mavic Pro adalah drone terkecil yang pernah ada. Dengan DJI Mavic Pro, kamu bisa tetap membiarkan propsnya terpasang karena props nya pun bisa dilipat. Sedangkan jika pada GoPro Karma kamu juga bisa tetap membiarkan propsnya terpasang tetapi karena propsnya tidak bisa dilipat maka kamu akan butuh tempat penyimpanan yang lebih besar.

Basic

Setelah kita selesai membandingkan ukuran antara ketiga drone itu, ini saatnya untuk mencari tahu kemampuan Mavic Pro secara lebih dalam. Daya tarik utama dari Mavic Pro ini terletak pada saat sebelum melakukan penerbangan. Kemampuannya untuk melipat arms nya tentu menjadi titik jual yang luar biasa.

Tentu, sebelum melakukan penerbangan tentu kamu perlu membuka keempat arms yang ada pada Mavic Pro. Pertama buka arms bagian depan lalu dilanjutkan dengan bagian belakang.

Setelah itu kamu perlu melepas gimbal cover dan gimbal clamp. Kedua benda ini terbuat dari plastik yang berfungsi melindungi gimbal ketika tidak sedang melakukan penerbangan.

Gimbal cover secara spesifik berguna untuk melindungi gesekan yang terjadi antara kamera dengan bagian dalam tasmu, sedangkan gimbal clamp berfungsi untuk menjaga gimbal dari goncangan.

Selain gimbal clamp dan cover ada pula yang disebut sebagai pelindung gimbal cover yang berwarna hitam dan terbuat dari bahan karet.

Kenapa perlu pelindung untuk gimbal cover? Ini karena kamu, pada dasarnya, bisa terbang dengan tetap memasang gimbal cover. Pelindung gimbal cover ini berfungsi untuk menghindari adanya goresan pada gimbal cover saat sedang berada di dalam tas.

Selain itu, pelindung gimbal cover ini juga bisa kamu gunakan sebagai sebuah pengingat bahwa gimbal cover masih terpasang.

Lalu, setelah memasang baterai, letakkan Mavic Pro di atas permukaan yang buka terbuat dari logam dan nyalakan. Kamu tidak perlu membuka lipatan props, karena Mavic Pro secara otomatis akan melakukannya. Hanya, kamu perlu memastikan bahwa ketika props mulai berputar pastika tidak ada benda-benda yang akan mengganggun putarannya.

Salah satu kelemahan dari Mavic Pro adalah jika ia lepas landar dari permukaan yang tidak jelas. Misalnya, seperti di atas pasir. Hal ini akan membuat Mavic Pro mengalami kesusahan ketika melakukan take off. Untuk mengatasi hal ini, kamu bisa menggunakan majalah agar Mavic bisa terbang dengan mudah.

Pasir dan juga air merupakan musuh bebuyutan dari semua perangkat elektronik, termasuk drone. Maka dari itu berhati-hatilah ketika memilih tempat untuk melakukan lepas landas.

Jangan pernah pula melakukan lepas landas dari atas atap mobil karena permukaan dari logam akan mengacaukan kompas yang ada pada Mavic Pro.

Untuk menyalakan drone, kamu perlu menekan tombol power secara berulang-ulang dan kemudia menahannya untuk beberapa detik. Kamu juga perlu melakukan hal yang sama untuk menyalakan remot kontrol.
Remot kontrol dilengkapi dengan beberapa kabel penghubung yang berbeda-beda (lighting untuk Apple, USB-C untuk ponsel pintar keluaran terbaru, dan micro USB untuk ponsel pintar keluaran lama).
Kemudian, setelah remot kontrolnya terhubung, kamu bisa menggunakan aplikasi DJI GO untuk mengontrol semuanya.
Catatan: kamu tetap bisa menerbangkan drone bahkan tanpa ponsel pintar. Namun akan ada beberapa hal yang mengganggu, seperti misalnya kamu tidak bisa memfokuskan gambar obyek yang ingin kamu ambil fotonya. Bahkan ketika tombol map pada remot kontrol diatur dalam posisi fokus, hal ini tetap tidak akan berarti apa-apa tanpa menggunakan ponsel pintar.

Ketika ponsel pintarmu kehabisan daya saat berada di tengah-tengah penerbangan, fungsi penerbangan pada drone tidak akan mengalami gangguan. Mavic mu tetap bisa kembali ke home point tanpa perlu menggunakan ponsel pintar. Namun, gambar yang dihasilkan pun tetap terlihat blur.

Walaupun begitu, 99% pilot Mavic Pro, tetap memilih menggunakan ponsel pintar agar bisa mengontrol drone mereka dengan menggunakan aplikasi DJI GO. Pasalnya, ketika menggunakan DJI GO, ia akan melakukan validasi pada sensor dan sistem termasuk kompas dan gimbal ketika aircraft dinyalakan. Jadi, jika ada sesuatu yang salah terjadi, DJI GO akan langsung memberi peringatan dan solusi dari permasalahan itu.

Ketika itu semua sudah beres, maka kamu siap untuk melakukan lepas landas.

Kamu dapat memilih menekan tombol yang ada pada aplikasi atau menggunakan tuas remot kontrol untuk lepas landas. Secara personal, kami lebih memilih menggunakan tuas remot kontrol karena ini jauh lebih cepat daripada harus menggeser ikon pada layar ponsel pintar.
Untuk mulai merekam, kamu bisa menggunakan ikon rekam yang ada pada aplikasi atau menggunakan tombol rekam yang ada pada remot kontrol.

Pada remot kontrol terdapat juga tombol rana/shutter. Tombol ini berfungsi untuk mengambil gambar. Namun, kamu perlu ingat bahwa kamu tidak bisa sekaligus mengambil gambar dan merekam video. Hal ini tentu berbeda pada GoPro Karma yang mampu mengambil foto dan merekam video sekaligus.

Ketika kamu menggunakan firmware terbaru (rilis Februari, 2017), ketika kamu menekan tombol foto ketika sedang merekam video maka sistem yang ada pada Mavic akan menolaknya.

Pada remot kontrol Mavic Pro terdapat Gimbal Slider yang membuatmu dapat memiringkan kamera ke atas maupun ke bawah.

Kamu juga dengan mudah dapat mengganti mode terbang Mavic-mu ke Mode S dengan menggunakan tombol yang ada pada sisi kanan remot kontrol. Mode ini secara signifikan dapat meningkatkan kecepatan dronemu hingga 75km/jam.

Namun, penggunaan Mode S ini tidak disarankan untuk para pemula, karena pada mode ini semua sensor pengiindraan rintangan yang ada pada Mavic tidak aktif yang berarti Mavic tidak bisa secara otomatis menghindari rintangan yang ada pada jalur terbangnya. Kedua, semua hal berlangsung sangat cepat pada Mode S ini.

Penting untuk kamu ingat juga, bahwa di mode lain pun kamu bisa mematikan fungsi sensor pendeteksi rintangan ini.
Sensor ini membuat Mavic terbang ke samping, ke belakang, atau ke atas alih-alih terbang ke arah rintangan tersebut. Sensor ini berada di bagian depan aircraft dan berbentuk seperti dua titik.  Ketika kamu terbang begitu dekat dengan rintangan, sensor ini akan menampilkan jarak antara dengan Mavic mu pada layar ponsel pintarmu.
Pada gambar hasil screenshot berikut ditunjukkan bahwa Mavic Pro terbang pada ketinggian 2meter (7kaki) dan muncul sebuah notifikasi ‘Obstacle Avoided. Revise Flight Route.’

Sebelum kamu mulai mendaratkan Mavic, ada satu hal penting yang perlu kamu ketahui. Yaitu bagaimana menyambungkan WiFi antara drone dan ponsel pintarmu.

Untuk mengaktifkan WiFi, kamu perlu membuka katup kecil yang ada pada sisi drone dan menggantinya ke WiFi.

Kemudian kamu perlu menyambungkan ponsel pintarmu. Kamu bisa menemukan informasi tentang WiFi pada baterai kompartemen dan pada arms Mavic Pro.

Perlu kamu ingat, bahwa dengan Mode WiFi ini akan memberimu jarak terbang yang terbatas. Untuk skenario terbaiknya jarak terbang maksimal adalah 80 meter, tetapi sering kali jarak terbang kurang dari ini. Secara personal, kami tidak menyarankan untuk menggunakan hal ini karena kurang praktis.

Dan, ketika kamu ingin mulai mendaratkan Mavic Pro kamu bisa melakukannya secara manual atau dengan menekan ikon yang ada pada pojok kiri atas layar ponsel pintarmu. Pada pojok kiri atas layar ponselmu ada sebuah ikon yang akan membuat Mavic mu kembali ke home point, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut

Ketika menggunakan fungsi ini, Mavic akan terbang ke ketinggian RTH sebelum kembali ke home point. Kami menyarankan untuk mengatur ketinggian RTH ini lebih tinggi dari rintangan yang ada di sekitar lokasi penerbangan. Lalu, ketika Mavic sudah berada dekat dengan Home Point, dan siap mendarat, sensor optical downwards akan bekerja untuk memastikan Mavic dapat mendarat dengan lembut. Sensor ini letaknya di bagian bawah Mavic

Video & Foto

Tujuan utama kamu membeli drone dari DJI adalah kemampuannya dalam mengambil foto dan merekam video. Dan semua produk DJI mendominasi pangsa pasar untuk dua kemampuan ini. Beberapa bulan lalu, banyak orang melihat sebuah review yang membandingkan kamera yang ada pad GoPro dan DJI Mavic dan banyak berkomentar bahwa GoPro Karma jauh lebih unggul dalam aerial imagng daripada DJI Mavic.

Dan hal ini tentu saja tidak benar.

Sering kali kita melewatkan sebuah detil penting seperti misalnya, GoPro (bahkan Hero5 Black) akan menpunyai kemampuan merekam video hingga 4K dengan fitur fisheye di mana Mavic maupun drone DJI lainnya tidak sanggup melakukannya. Namun, jika kita cermati lebih dalam lagi, ternyata Hero5 Black hanya mampu menghasilkan video dengan kualitas 2.7K dan bukan 4K.

Namun, bukan berarti kamera GoPro tidak ada keunggulan sama sekali jika dibandingkan kamera Mavic. Buktinya adalah kamera GoPro mempunyai kecepatan merekam hingga 60FPS (frame per second) pada video 2.7K. Hal yang berbeda sekali dengan Mavic yang hanya mempunyai kecepatan merekam 30FPS pada video 2.7K.

Pada bagian kanan layar kamu bisa menemukan semua pengaturan baik untuk foto atau video yang kamu butuhkan. Kamu akan melihat sebuah ikon dengan tanda panah melingkar di dekat tombol rekam video (berwarna merah besar). Ikon tersebut berfungsi untuk mengganti mode foto atau video dengan cepat.

Untuk menyimpan foto dan video tentu kamu perlu menambahkan kartu memori pada Mavic-mu. Kartu memori ini bisa kamu masukkan di bagian samping Mavic.

Ketika kamu mulai merekam, kamu akan melihat tampilan durasi waktu perekaman pada layar ponsel pintarmu. Dalam hal ini, kami menggunakan kartu memori berkapasitas 128GB sehingga durasi waktu perekaman yang kami miliki adalah 88 menit. Di samping tampilan durasi adalah informasi mengenai kecepatan merekam dan kualitas video (kami menggunakan 4K/30FPS).

Beranjak ke kiri, kamu akan menemukan pengaturan foto seperti exposure, white balance, ISO, dan kecepatan rana/shutter.

DJI juga menambahkan sebuah fitur bernama ‘Tap to Focus’ pada DJI Mavic Pro yang semakin menambah penasaran orang. Secara teori fitur ini memberikanmu kesempatan untuk bisa menfokuskan kamera pada obyek yang kamu inginkan dan memberikan kesan bokeh/blur pada latar belakangnya, seperti pada kamera DSLR.

Sebagaimana kamera drone DJI lainnya, kamera pada Mavic ini juga dilengkapi fitur exposure yang besarannya dapat kamu atur sesuai dengan keinginanmu. Ikon berwarna kuning pada gambar berikut menunjukkan bagian dari gambar yang ingin diexposed sebagaimana semestinya. Dan, jika kamu ingin mengunci fungsi exposure ini, kamu bisa mengetuk ikon AE yang ada di pojok kanan atas layar ponselmu.
Ikon akan berubah menjadi biru ketika kamu sudah mengaktifkannya.
Dengan memanfaatkan DJI GO, kamu juga bisa mengatur kecepatan merekammu. Mulai dari 30FPS sampai 120FPS (pada GoPro Hero4/5 Black bisa sampai 240FPS). Kamu juga bisa mengatur ukuran videomu pada pengaturan ini.
Pada panel ini, kamu juga bisa mengatur white balance, style, dan color preferences. Kamu bisa tahu lebih banyak mengenai semua fitur dan fungsi yang ada pada aplikasi DJI GO ini dengan membaca panduannya di sini
Untuk mode fotografi, ada beberapa opsi yang bisa kamu gunakan. Pertama adalah opsi tipe pengambilan foto. Dengan Mavic Pro, kamu bisa mengambil foto dengan tipe single shot, multiple shot, HDR, AEB, atau time-shot.
Pada panel yang sama, kamu juga bisa memilih ukuran foto, format foto (JPEG, RAW, atau JPEG+RAW), white balance, style, dan color preferences seperti yang ada pada mode video. Bedanya, jika dalam mode foto ini, kamu bisa menentukan ketinggian ISO dan kecepatan rana/shutter.
Dengan fungsi tombol playback, kamu bisa melihat kembali semua gambar maupun video yang sudah kamu potret atau rekam sebelumnya. Fitur ini sangat membantu karena kamu dapat langsung melihat semua file yang kamu ambil tanpa harus mendaratkan aircraft terlebih dahulu.
Mode Penerbangan

Mavic Pro mempunyai beberapa mode penerbangan yang bisa digunakan untuk melakukan penerbangan otomatis atau untuk merekam beberapa gambar. Ide dasar dari beberapa mode penerbangan ini adalah memudahkan kamu untuk bisa mengontrol drone dan kamera (bahkan di di tempat yang susah sekalipun). Misalnya ketika kamu terbang dengan mengorbit pada sesuatu, di mana kamu perlu tahu bagaimana untuk menjaga kamera agar bisa tetap fokus pada obyek dan terbang pada jarak yang tetap dengan kecepatan yang relative tinggi.

Jadi, DJI mengembangkan sistem pilot otomatis pada mode ini. Misalnya, pada Mode Point of Interest, kamu hanya tinggal mengetuk ikonnya dan drone akan terbang mengorbit pada obyek yang sudah kamu tentukan. Pada mode ini kamu juga bisa menentukan ketinggian dan jarak radius terbang sewaktu-waktu

Mode-mode penerbangan yang ada pada Mavic Pro yang bisa kamu pilih di antaranya:

  • ActiveTrack
  • Follow-Me
  • TapFly
  • Terrain Follow
  • Tripod
  • Gesture
  • Point of Interest
  • Waypoints
  • Home Lock
  • Course Lock

Fitur-fitur in terpisah dari sistem Return-to-Home. Setiap dari fitur penerbangan otomatis itu dapat digunakan dengan cara unik untuk menghasilkan hasil gambar yang bagus. Misalnya, kamu bisa menggunakan fitur Course Lock jika kamu ingin kamera Mavic fokus pada obyek saat kamu terbang dengan kecepatan tinggi.

Ada pula fitur TapFly yang membuat Mavic Pro-mu dapat terbang ke mana pun kamu mengetuk tempat yang ada pada layar ponsel pintarmu saat menggunakan DJI GO. Fitur ini sangat berguna jika kamu ada seorang pemula yang ingin belajar menerbangkan drone, maka fitur ini adalah salah satu hal terbaik yang bisa kamu coba.

Beda lagi dengan fitur Waypoints yang mengizinkanmu untuk membuat jalur penerbangan yang kemudian akan diikuti oleh Mavic-mu. Dengan fitur Mavic mu akan terbang mengikuti titik koordinat (waypoint) yang sudah kamu buat sebelumnya dengan menggunakan DJI GO. Fitur ini sangat berguna jika kamu ingin ingin mengulang-ulangi cara pengambilan gambarmu hingga kamu mendapat gambar yang tepat.

Di beberapa negara, fitur ini dilarang. Hal ini karena Mavic mu bisa saja terbang di luar Line-of Sight. Jadi, kamu perlu ekstra hati-hati dalam menggunakan fitur terbang otomatis ini.

Jika kita buat perbandingan, GoPro Karma hanya mempunyai empat mode pilot otomatis yang bisa memudahkan penerbangan mereka:

  • Orbit : fitur ini sama seperti Point of Interest yang ada pada Mavic Pro
  • Dronie/Selfie Mode: fitur ini tidak ada pada DJI Mavic Pro. Tapi, jika kamu ingin mengambil foto selfie dengan menggunakan Mavic Pro, kamu bisa menggunakan fitur Home Lock.
  • Cable Cam: fitur ini mirip dengan fitur waypoint yang ada pada DJI Mavic Pro, tetapi sedikit lebih rumit.
  • Reveal: Fitur ini juga tidak terdapat pada drone produksi DJI

Hal yang membuat DJI lebih unggul dari GoPro lainnya adalah bahwa DJI punya SDK yang membuat pihak ketiga dapat mengembangkan aplikasinya sendiri untuk semua drone yang dibuat DJI, termasuk Mavic Pro. Jadi, jika fitur penerbangan otomatis tidak ada yang bisa memenuhi keinginanmu, kamu bisa mengembangkan fitur penerbanganmu sendiri.

Dengan menggunakan aplikasi hasil pengembanganmu sendiri, kamu bisa mengisi semua celah yang tidak bisa disuguhkan oleh DJI dengan menggunakan ponsel pintarmu. Selain itu dengan menggunakan fitur SDK kamu bisa mengontrol beberapa drone sekaligus untuk memotret gambar yang kompleks.

Performa & Kestabilan

Hal yang penting yang wajib dimiliki sebuah drone adalah kestabilannya saat terbang, tingkat responsifitasannya, dan juga arah terbang yang dapat ditebak. Hal itu terdengar sangat jelas bahwa semua produsen drone pasti melakukannya, tetapi masih saja ada beberapa produsen yang terganjal pada permasalahan ini. Masalah performa dan kestabilan drone ini erat hubungannya dengan keakuratan GPS, termasuk masalah bagaimana mengatasi cuaca buruk seperti hujan, berangin, dan kabut saat melakukan penerbangan.

GoPro Karma gagal dalam 2 kali ujicoba yang kami lakukan. Pertama, GoPro Karma tidak mampu menjaga kestabilan terbangnya saat terbang dengan ketinggian rendah. Kedua, GoPro Karma punya GPS Positioning yang jelek ketika terbang tinggi di udara. Dalam kasus ini, kami mencoba semua mode yang ada pada GoPro Karma, tetapi tetap tidak ada hasil yang menggembirakan.

Berbeda ketika kami mencoba menerbangkan Mavic Pro. Berkat sensor optical downwards nya ia mampu terbang dengan akurat dengan ketinggian rendah.

Kami juga menguji kestabilan terbang Mavic Pro pada ketinggian sedang. Kami mencoba menerbangkan drone pada ketinggian 25 meter di atas permukaan tanah dan mengamati apakah Mavic goyah saat terbang itu atau tidak. Dan, ternyata dalam kondisi sedikit berangin pun, Mavic Pro tetap pada posisinya.

Berikut ini video yang bisa membuktikan bahwa Mavic Pro tetap kuat walaupun terbang melawan angin.
Fungsi Atletik

Fungsi atletik yang dimaksud di sini adalah kemampuan drone untuk melacak sebuah obyek tanpa kontrol tambahan dari remot. Beberapa produsen drone punya cara sendiri, misalnya Airdog yang menggunakan pelacak kecil yang ditempatkan pada bagian arm depan yang membuat drone ini dapat tahu 100% posisi obyek yang diikutinya.

Sedangkan DJI tampil dengan fungsi ActiveTrack nya untuk bisa melacak obyek yang diikutinya. Fitur ini membuat kamera drone dapat mengenali obyek dan mengikuti ke mana pun obyek itu bergerak.

Kedua, kamu juga bisa menggunakan fitur Follow-Me yang membuat drone DJI dengan mudah terbang mengikuti ke mana pun kamu bergerak selama kamu membawa remot kontrol.

Berikut ini 10 aturan yang harus kamu perhatikan ketika menggunakan fitur penerbangan otomatis pada Mavic Pro:

  1. Active Track pada Mavic tidak akan menambah atau mengurangi ketinggian. Drone akan tetap pada ketinggiannya seterusnya
  2. Active Track pada Mavic tidak bisa dikombinasikan dengan Terrain Follow. Ketika kamu mengaktifkan salah satu mode penerbangan otomatis, maka mode lain akan otomatis tidak aktif.
  3. Active Track pada Mavic akan kehilangan obyek yang dilacak jika obyel berada di belakang pohon/jembatan/dll. Dan jika dalam waktu 1-3 detik Mavic belum dapat melacaknya lagi, Mavic akan kehilangan obyek yang dilacak dan akan melayang di tempat
  4. Active Track pada Mavic tidak bisa dinonaktifkan dengan remot kontrol.
  5. Active Track pada Mavic akan mengindari rintangan yang ada di depannya dengan meggunakan kamera depannya. Jika Mavic gagal menghindari rintangan dan bagian sisinya mengalami benturan, ActiveTrack masih tetap akan aktif
  6. Follow-me pada Mavic tidak akan mendapatkan informasi apapun tentang dirimu. Dengan fitur ini drone hanya akan terbang mengikuti lokasi dari remot kontrol.
  7. Follow-me pada Mavic tidak bisa menambah atau mengurangi ketinggian terbang. Drone akan terbang pada ketinggian yang tetap.
  8. Follow-me pada Mavic tidak bisa digunakan dengan sambungan WiFi pada ponsel pintar. Namun, ActiveTrack bisa.
  9. Follow-me pada Mavic akan mengindari rintangan yang ada di depannya dengan meggunakan kamera depannya. Jika Mavic gagal menghindari rintangan dan bagian sisinya mengalami benturan, Follow-me masih tetap akan aktif
  10. Baik dalam ActiveTrack maupun Follow-me pada Mavic, jika kamu terbang hingga muncul peringatan daya baterai lemah (20%) fitur ini akan non aktif dengan sendirinya dan drone akan kembali ke home point.

 

Berikut ini video yang bisa memudahkan pemahamanmu mengenai ActiveTrack

Perbadingan Produk
Berikut ini tabel perbandingan produk GoPro Karma, DJI Mavic Pro, dan Airdog

Fungsi/Fitur

GoPro Karma

DJI Mavic Pro

Airdog

Harga10 jutaan (13 jutaan dengan Hero5 Session, dan 14 jutaan dengan Hero5 Black)13 jutaan21 jutaan
Tanggal Rilis19 September 201626 September 201615 Juni 2014

Case

GoPro Karma

DJI Mavic Pro

Airdong

TermasukIyaTidak, hanya pada Combo BundleTidak
Dapat Disimpan Tanpa Melepas PropsBisaBisaTidak

Spesifikasi

GoPro Karma

DJI Mavic Pro

Airdog

Berat1941 gram739gram2022gram

Basic

GoPro Karma

DJI Mavic Pro

Airdong

Remot KontrolIyaIyaIya
Bisa Menggunakan Ponsel sebagai Remot KontrolTidakBisaTidak
Remot Kontrol Anti AirAnti air hujanTidakAnti Air
Mode Slave Remot KontrolBisa, dengan menggunakan Aplikasi Passenger (untuk iOS dan Android)Tidak bisaTidak bisa
Landing Gear dapat DilipatIyaIyaIya

Perft

GoPro Karma

DJI Mavic Proc

Airdong

Daya Tahan Baterai13 -16 menit25 – 27 menit15 menit
Kecepatan Terbang56 km/jam64 km/jam70 km/jam
Jarak Terbang Maks3000 meter13.000 meterBervariasi, tetapi berkisa antara 400 – 800 meter
Dapat digunakan di dalam RuanganTidakIyaTidak

Kamera dan Gimbal

GoPro Karma

DJI Mavic Pro

Airdong

Kamera dapat DilepasIya (dengan menggunakan kamera GoPro)TidakIya (dengan menggunakan kamera GoPro)
Kecocokan KameraGoPro Hero 4/5N/AGoPro Hero 3/4
Tipe Gimbal3 sumbu3 sumbu3 sumbu
Gimbal dapat DilepasBisaTidakTidak
Resolusi Video4K/30FPS (dengan Hero 4/5 Black)4K/30FPS4K/30FPS (dengan GoPro Hero 4 Black
Resolusi Kamera12 MP12.3 MP12 MP
Format Foto RAWBisaBisaTidak
Video Mode LOGBisa dengan Hero 4/5 Black/SilverBisaBisa dengan Hero 4 Silver/Black

Sensor

GoPro Karma

DJI Mavic Pro

Airdong

Pengindraan RintanganTidak adaAdaTidak ada
Peringatan KetingianTidak adaAdaAda

Fitur

GoPro Karma

DJI Mavic Pro

Airdong

Follow-me (Software-good)Tidak adaAdaTidak ada
Follow-me (hardware-better)Tidak adaTidak adaAda
Mode Penerbangan OtomatisOrbit, Dronie, Cable Cam, RevealTap to Fly, Terrain Follow, Tripod Mode, ActiveTrack, Follow-Me, Orbit, Selfie, WaypointsAda

Live Streaming

GoPro Karma

DJI Mavic Pro

Airdong

YouTubeTidak bisaBisaTidak bisa
Facebook LiveTidak bisaBisaTidak bisa

Kesimpulan

Setelah melihat berbagai hal dan juga perbandingan dari ketiga produk tesebut maka kami yakin bahwa DJI Mavic Pro merupakan sebuah produk yang lebih unggul dibanding yang lainnya.

DJI lewat Mavic-nya benar-benar melakukan inovasi tinggai dan terus melampauhi batasan dengan berbagai cara. Baik lewat drone, remot kontrol, maupun sistem baterainya. Kini, bagi kami, satu-satunya kompetitor dari DJI bukan lagi produsen-produsen drone lainnya, melainkan produk-produk lama mereka.

Comments

comments

%d blogger menyukai ini: