New Pilot Experience pertama di Jogjakarta Sabtu, 30 September 2017 dihelat di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center lalu mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari segenap peserta yang hadir di sana. Acara yang mempertemukan para pilot drone dari yang sudah professional hingga mereka yang baru mulai belajar menerbangkan drone ini diinisiasi oleh DJI, DJI Experience Store, JogjaSky, dan PT Wook Mobile Commerce.

Acara dimulai sejak pukul 08.30 pagi dengan dihadiri tak kurang dari 150 peserta baik dari kalangan perorangan maupun dari komunitas seperti misalnya Eroksa Mapping, Multirotor Jogja, Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), Authorized Retail Store (ARS), dan juga dari Drone Racer.

Selain itu, acara yang bertepatan dengan HUT TNI AU ke-72 ini dihadiri pula oleh Kepala Dinas Potensi Dirgantara, Marsekal Pertama TNI Hari Budianto; Komandan Pangkalan Udara Marsma TNI, Ir.Novyan Samyoga; Ketua Pembina Drone TNI AU, Kolonel Pnb Fajar Adriyanto; DanPom TNI, Mayor Jenderal TNI Dedy Iswanto, S.E., S.H.; Danrem Yogyakarta Pamungkas, Brigjen TNI Fajar Setyawan, S.Ip.; Kapolda DIY, Brigjen. Pol. Drs. H. Ahmad Dofiri, M.Si; dan Danlanal Yogyakarta, Lantamal V Letkol Laut (P) Arya Delano, S.E., M.Pd.

Banyak hal dibahas pada acara New Pilot Experience ini mulai dari pengenalan DJI sebagai sebuah brand pesawat tanpa awak terbaik di dunia dengan beberapa produk ikonik mereka seperti Mavic Pro, Phantom 4 Pro, Inspire, dan Spark oleh Frans Saragih. Acara ini juga membahas mengenai panduan dasar penerbangan pesawat tanpa awak peraturan dalam menerbangakan drone yang berlaku di Indonesia. Aji Sophian menjelaskan bahwa teknologi drone dewasa ini telah banyak digunakan bukan hanya untuk kepentingan hiburan saja, tetapi juga untuk kebutuhan aerial mapping yang banyak digunakan oleh berbagai macam institusi pemerintahan maupun swasta.

“Pemanfaatan drone memang sudah sangat luas, baik untuk kepentingan matrik (pengukuran) dan tematik,” ujar Barandi Sapta Widartono, S.Si, M.Si., dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. “Namun, penggunaan drone ini masih mengalami kendala misalnya pada ketelitian ukuran pemetaan tata ruang. Hal ini salah satunya dikarenakan drone yang digunakan memiliki spesifikasi yang berbeda.”

Barandi juga menambahkan bahwa jika drone digunakan untuk tujuan yang matrik maka dibutuhkan sebuah spesifikasi yang lebih unggul dari yang sudah ada sekarang dan sama untuk tiap jenis maupun merk yang digunakan agar tidak terjadi kesalahan dalam perhitungan. “Selama poin ini belum terpenuhi, artinya kita belum bisa terlalu mengandalkan teknologi drone untuk keperluan matrik,” imbuhnya

Acara ini juga membuka sesi tanya jawab bersama Phillipe dari JogjaSky. Dalam sesi ini, para peserta sangat terlihat sangat antusias dalam mengajukan berbagai macam pertanyaan tentang pengaturan-pengaturan yang ada pada drone hingga beberapa permasalahan yang sering muncul ketika para pilot ini menerbangkan drone mereka. Misalnya saja tentang penggunaan fitur daya baterai yang tiba-tiba drop dan drone tidak berfungsinya fitur RTH. Selain permasalahan, tentunya ada sesi di mana para peserta mendapatkan tips dan trik dalam merawat drone.

Bahkan, seperti yang disampaikan oleh Sekjen Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), pesawat tanpa awak atau drone akan diusahakan untuk bisa masuk ke dalam cabang olahraga tingkat nasional mengingat banyaknya pecinta dunia drone ini. “Maka untuk itu perlu adanya peraturan yang lebih ketat dan mengikat agar drone ini tidak disalahgunakan,” lanjutnya.

Sebelum acara New Pilot Experience ini ditutup dengan ujicoba penerbangan bersama peserta dan panitia  menyepakati sebuah Notam. Notam atau Notice to Airmen sendiri merupakan sebuah pemberitahuan yang diajukan oleh otoritas penerbangan untuk memperingatkan pilot pesawat terbang tentang potensi bahaya yang berada di sepanjang ruter penerbangan atau di lokasi yang dapat mempengaruhi keselamatan penerbangan.

Comments

comments

%d blogger menyukai ini: