fbpx

Masalah polusi udara adalah salah satu masalah besar yang paling umum dijumpai di kota-kota padat penduduk dan mempengaruhi penghuninya dari segi kenyamanan hingga kesehatan.

Jakarta baru saja dinyatakan sebagai kota dengan polusi udara terburuk di Asia Tenggara. Dilansir oleh Greenpeace, Jakarta berisiko segera menyusul kota-kota besar di Cina yang terkenal tercemar.

Meningkatnya jumlah kendaraan pribadi yang beraktifitas di Jakarta setiap harinya menyebabkan kualitas udara menjadi buruk. Namun, sumber polutan lain seperti PLTU yang terdapat di sekeliling kota Jakarta dalam radius 100 km juga ikut berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi polusi udara. Berdasarkan pemodelan yang dilakukan oleh Greenpeace, PLTU batubara yang sudah beroperasi tersebut dapat berkontribusi sebanyak 33 hingga 38 persen dari konsentrasi PM2.5 harian di Jakarta pada kondisi terburuk.

Dalam skala regional, buruknya kualitas udara juga terjadi di Bangkok, Thailand, dan telah ditanggapi dengan serius oleh pemerintahnya, antara lain dengan menutup ratusan sekolah dan menyemprotkan air di udara menggunakan drone. Baru-baru ini masalah polusi udara di Bangkok, Thailand menjadi sangat buruk sehingga pemerintah kota menghubungi komunitas-komunitas drone di kota tersebut untuk mendapatkan 50 drone DJI Agras Agricultural Drone untuk masing-masing membawa cairan sejumlah 10 liter. Ke-50 Agras yang digunakan ini diterbangkan untuk kemudian membuat hujan buatan dari cairan campuran molase.

Photo credits: wetalkuav.com

Cairan yang dibawa adalah cairan campuran air dan sirup gula dari molase yang diyakini mampu mengurangi debu dan membersihkan udara. Menurut para ilmuwan seperti dilansir dalam wetalkuav.com, molase (produk kental yang dihasilkan dari penyulingan tebu), mampu membantu menangkap debu di udara yang kemudian jatuh ke tanah sebagai tetesan hitam.

Photo credits: reuters.com, EPA

Menurut Proyek Indeks Kualitas Udara Dunia, di pusat kota Bangkok saat ini telah terdaftar sekitar 120 partikel partikulat udara per meter kubik udara. Antara 0-50 bagian dari polusi udara dianggap “baik” dan lebih dari 100 lainnya berisiko bagi mereka yang menderita penyakit pernapasan seperti asma.

Bangkok adalah kota industri padat penduduk dengan populasi lebih dari 8 juta penduduk. Awal Februari lalu, polusi udara di kota ini sangat parah (mendekati 200 bagian per meter kubik) sehingga sekolah-sekolah di Bangkok diliburkan selama sepekan dan para penduduknya bersuara di media sosial untuk mengeluhkan iritasi pada mata dan bahkan batuk darah. Penduduk pun mulai mengenakan masker penyaring udara ketika keluar rumah.

Untuk informasi seputar produk DJI Enterprise seperti DJI Agras, Matrice, Mavic 2 Enterprise, Phantom 4 RTK dan PPK, silahkan klik tombol di bawah untuk mengunduh daftar informasi dan paket produk DJI Enterprise dari Jogja Sky.

Penggunaan drone sebagai usaha pengurangan polusi di kota Bangkok patut kita acungi jempol karena implementasi teknologi untuk keamanan dan kenyamanan publik semacam ini belum banyak dijumpai di negara kita. Polusi udara telah semakin meningkat dan ini membahayakan kesehatan penduduk terutama di wilayah-wilayah industri dan padat penduduk seperti Jakarta dan Batam.

Berikut adalah video dokumentasi ketika drone-drone DJI Agras tersebut dipersiapkan sebelum terbang dan saat terbang dan menyemprotkan cairan.

Menurut kamu, kapankah penggunaan teknologi canggih seperti drone untuk mengatasi polusi udara akan mulai digiatkan di Indonesia? Berikan opini anda di bawah! Jangan lupa, ikuti terus halaman media sosial Jogja Sky di Facebook, Twitter, dan Instagram untuk mengikuti informasi terkini mengenai produk-produk DJI.

Comments

comments