Beberapa waktu yang lalu DJI meluncurkan Mavic sebagai produk terbaru mereka, salah satu drone terkecil dan punya spesifikasi lebih baik dari Phantom 4. Tidak lama setelah meluncurnya Mavic di pasaran, lagi-lagi DJI melakukan gebrakan dengan memperkenalkan Phantom 4 Pro!. Jadi apa kelebihan Phantom 4 Pro ? Apakah lebih bagus dari Phantom 4 dan Mavic ?. Untuk mengetahui seberapa besar upgrade Phantom 4 Pro dari versi sebelumnya, kami membuat ulasan lengkas pada setiap komponen-nya.

check this out!

Pesawat ( Aircraft )

Dilihat dari performa, baik versi Phantom 4 Pro dan Phantom 4 bisa dibilang nggak jauh berbeda. Ada peningkatan berat di versi Pro, dari 1380 gram jadi 1388 gram (hanya naik 8 gram saja). Kecepatan maksimal pada mode Sport masih sama yaitu 72 km/h atau 20 m/s, tapi terdapat peningkatan 16 km/h kecepatan maksimal di mode P (10 mph). Juga terdapat kenaikan jangkauan terbang, sampai 7 km (keterangan di iklan), sama seperti Mavic Pro.

Kamera

Upgrade signifikan yang terasa banget pada Phantom 4 versi Pro adalah kamera-nya. Kamera memang jadi aspek penting di dunia aerial terutama buat kamu para profesional. Kamu bisa menjadikan kamera sebagai pertimbangan utama saat membeli / meng-upgrade drone, karena hasil gambar yang jernih berkualitas akan meningkatkan nilai jual aerial service kamu, artinya kamera bisa jadi investasi yang cukup menguntungkan.

Kamera Phantom 4 Pro dilengkapi 1-inch CMOS sensor yang mampu ngambil gambar 20 megapixel foto dan capture up to 11.6 stops dynamic range. Dynamic range bagus punya 2 manfaat yaitu untuk keseimbangan drone dan kemampuan sensor membedakan gelap terang. Hal semacam ini jadi masalah umum di dunia aerial, apalagi kalau kamu menemui situasi dimana terdapat kontras tajam antara cahaya di langit dengan dataran.

Phantom 4 Pro merupakan drone DJI pertama yang menggunakan mechanical shutter, membantu meminimalisir distorsi saat melakukan maneuver rolling. Kebanyakan drone bermasalah ketika melakukan “rolling shutter” karena akan menghasilkan getaran terutama saat mengejar objek bergerak. DJI menyebutkan hal-hal semacam ini dapat diatasi dengan kamera baru milik Phantom 4 Pro.

Tidak berhenti sampai disitu, kamera Phantom 4 Pro dilengkapi kemampuan untuk mengatur aperture lensa, memberikan keleluasaan mengolah gambar dengan depth of field. Kamera ini mampu mengambil 14 foto per detik dan meng-capture video slow motion 60 frame per detik. Sensor kamera 1 inch serupa dengan sensor milik kamera Sony Rx100 m4/5 seharga Rp 13.400.000

Bit rate video telah diperbaiki juga. Rekaman dikompresi di 100Mbps menggunakan kompresi H.265, naik dari format H.264 60Mbps yang ditawarkan oleh Phantom 4.

Kamera Phantom 4 Pro setara dengan 24mm prime di sistem kamera full-frame sementara kamera milik Phantom 4 hanya 20mm. Kamera Phantom 4 Pro juga memiliki kemampuan mengatur diafragma aperture dari f/2.8 sampai f/11. Bit rate video dari kamera ini juga telah di upgrade. Kompresi pada footage adalah 100Mbps menggunakan kompresi H.265 dari sebelumnya H.264 60Mbps milik phantom 4.

Max Image Size 3:2
Aspect Ratio : 5472 × 3648
4:3 Aspect Ratio : 4864 × 3648
16:9 Aspect Ratio : 5472 × 3078
ISO Range Video : 100 – 3200 (Auto); 100 – 6400 (Manual)
Photo : 100 – 3200 (Auto); 100- 12800 (Manual)

Peningkatan Obstacle Sensors

Ada tambahan stereo vision sensor di bagian belakang untuk melengkapi sensor serupa di depan dan infrared sensing system di sisi kanan dan kiri, Jadi secara total terdapat 5 sensor untuk mengantisipasi datangnya rintangan dari 5 arah berbeda.

Walaupun DJI menyebutkan “5 arah” sensor deteksi rintangan, tapi infraret sensor sebenarnya hanya bisa bekerja di mode beginner dan tripod dan tidak bisa digunakan pada mode P atau Atti. Jadi sebenarnya hanya sensor 2 arah yang bisa benar-benar digunakan (depan dan belakang) dalam berbagai kondisi.

Alasannya karena sensor IR cuma bisa mendeteksi rintangan sejauh 7 meter, tidak seperti kamera Vision yang mampu mencapai 30 meter. Jadi pada mode dimana kamu bisa terbang dengan cepat, tidak cukup jarak untuk menghentikan drone. Sensor visual di bagian depan dan belakang Phantom 4 Pro dapat mendeteksi rintangan pada ketinggian mencapai 30 meter. Sensor di bagian bawah dapat membantu menghindarkan drone mendarat di material berbahaya seperti dataran yang tidak rata atau air.

Sementara sensor infrared di kedua sisi dapat membantu drone mengetahui posisi, menghindari rintangan hingga ketinggian 7 meter dan sejauh 7 meter, sisi atas drone justru merupakan bagian yang tidak terlindungi.

Akan tetapu sensor infra red akan mengalami conflict saat digunakan di lokasi yang terlau banyak sumber cahaya terutama dari lampu. Contohnya saat digunakan pada konser musik dan semacamnya.

Sensor pendeteksi rintangan atau dikenal sebagai obstacle sensors yang kita ulas diatas memang sangat berguna, tapi kami menemukan beberapa orientasi yang berbeda dalam menggunakan sensor ini, terutama antara pilot aerial profesional dan hobbies. Kebanyakan pilot berpengalaman yang kami kenal justru mematikan sensor itu dan menggunakan mode ATTI untuk membuat hasil yang lebih halus saat merekam video di daerah yang sempit.

Berikut kami berikan contoh video yang diambil dengan Phantom 4 dalam keadaan sensor dimatikan karena berada di jalur yang cukup sempit. Mode ATTI digunakan untuk memperhalus hasil video.

Teknologi baterai

Di Phantom 4 kita akan mendapatkan baterai dengan kapasitas 5350 mAh seberat 462 gram, sementara Phantom 4 Pro mendapat sedikit peningkatan kapasitas menjadi 5870 mAh dan seberat 468 gram (6 gram lebih berat). Kedua jenis baterai ini dapat digunakan di semua jenis Phantom 4.

DJI memberi keterangan bahwa versi Pro dapat terbang 2 menit lebih lama atau totalnya sampai 30 menit waktu terbang. Estimasi terbang yang dicantumkan dalam spesifikasi DJI biasanya tidak sama dengan kenyataan. Dari pengalaman kami, rata-rata waktu terbang Phantom 4 adalah 23 menit. Dari pengalaman tersebut, kami memperkirakan Phantom 4 Pro setidaknya bisa terbang sampai 24 atau 25 menit.

Teknologi remote

Perbedaan paling terasa dari remote Phantom 4 Pro jika dibandingkan Phantom 4 adalah kemampuan merubah frekuensi antara 2.4 GHz dan 5.8GHz. Fitur merubah frekuensi ini digunakan untuk meningkatkan integrasi antara pesawat dan remote jika terjadi gangguan atau keterlambatan saat menerima gambar.

Pengaturan frekuensi tersebut cukup penting karena frekuensi 2.4 GHz yang paling banyak digunakan sering mendapat gangguan dari Wi-Fi, sinyal 4G dari tower seluler dan berbagai gangguan sinyal di kawasan perkotaan lainnya. Saat fitur ini diaktifkan, Phantom 4 Pro akan melakukan evaluasi level sinyal di kawasan drone itu berada dan memilih frekuensi yang paling sedikit mendapat gangguan.

Terdapat 2 jenis remote yang tersedia untuk Phantom 4 Pro, yaitu GL300E dan GL300F. Versi GL300F terlihat serupa dengan remote yang digunakan pada Phantom 4 original tanpa layar monitor dan terdapat USB port untuk dicolokkan ke smartphone. Sejauh ini belum ada informasi apakah HDMI bisa dipasang di versi GL300F, namun sepertinya memang tidak karena remote ini memiliki teknologi yang berbeda dari remote versi sebelumnya.

Jika Kamu membutuhkan remote yang lebih canggih, Phantom 4 Pro menawarkan pilihan remote GL300E yang menyediakan layar monitor sebagai bagian dari unit (build-in).
Berikut spesifikasi monitor bawaan GL300E :

  • Built-in display device 5.5 inch screen
  • 1920×1080, 1000 cd/m2
  • Sistem Android
  • 4G RAM+16G ROM
  • Live views projections
  • Dapat digunakan untuk berbagai aplikasi

Remote versi ini memiliki port HDMI, slot micro SD sehingga Kamu dapat menyimpan video footage, memiliki GPS, microphone, kemampuan embedded loudspeaker dan koneksi Wi-Fi untuk mengedit hasil gambar dengan DJI GO. Upgrade menarik lainnya adalah DJI meningkatkan Transmitter Power (EIRP) dari 23 dbm menjadi 26 dbm (FCC) untuk frekuensi 2.4 GHz dan 5,8 GHz pada 28 dbm.

Fitur dan modul baru

1. Draw

‘Draw’ adalah teknologi baru untuk mengontrol way point. Cukup menggambar rute terbang kamu pada layar monitor, dan Phantom 4 Pro akan mengikuti jalur tersebut. Fitur ini membantu pilot untuk fokus pada kamera dan merekam shoot yang kompleks. Terdapat 2 tipe Draw untuk kebutuhan yang berbeda.

2. ActiveTrack dengan 3 sub mode

Pilot dapat memilih antara :

  • Trace – Mengikuti objek baik dari depan maupun belakang, serta otomatis mampu menghindari rintangan
  • Profile – Terbang beriringan dengan objek dari berbagai sudut untuk mendapatkan gambar profil dari objek tersebut.
  • Spotlight – Menjaga kamera tetap mengarah pada objek yang dibidik saat pesawat terbang ke arah lain.

3. TapFly

Terdapat 3 mode Tap Fly :

  • TapFly Forward – Tab untuk terbang di arah yang ditentukan
  • TapFly Backward – Tab untuk terbang ke arah berlawanan, misalnya : tab bawah kanan pada monitor untuk terbang ke belakang menuju kiri atas.
  • TapFly Free – Mengunci arah depan Phantom tanpa mengunci arah kamera

4. Return to Home (RTH)

Peningkatan kemampuan menghindari rintangan saat RTH

5. Mode Gesture yang sebelumnya diperkenalkan di Mavic

Saat menggunakan Gesture Mode, Selfie dapat diambil dengan beberapa gestur tanpa menggunakan remot. Teknologi advanced computer vision menjadikan Phantom 4 Pro mampu melihat gesture sebagai sebuah trigger. Saat seseorang menggerakkan tangan mereka menghadap ke kamera, Phantom akan mendeteksi gerakan tersebut dan menempatkan gambar orang tersebut di tengah frame. Saat siap di foto, orang tersebut cukup menurunkan tangan mereka dan Phantom akan mengenali gerakan tersebut sebagai sebuah isyarat untuk memotret. Hitung mundur akan dimulai dan subjek dapat mengatur pose sesuai keinginan. Semua dilakukan tanpa peran remote.

Kami yakin teknologi ini sangat berguna dan membuat teman kamu terkesan terutama mereka yang belum banyak tau teknologi drone.

DJI bergerak cepat untuk membuat drone cerdas dengan teknologi-teknologi terbaru-nya. Jelas bahwa Phantom 4 Pro adalah contoh bagaimana teknologi mereka benar-benar berkembang pesat. Kemampuan mendeteksi dan membedakan pergerakan sepeda, pejalan kaki atau mobil merupakan teknologi kecerdasan buatan yang belum pernah ada sebelumnya di industri drone.

Satu hal yang jarang dibicarakan adalah diperkenalkan-nya redundancy pada teknologi drone.

Kecelakaan drone adalah bagian dari dunia drone itu sendiri, kegagalan sistem pada drone sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu, kita tidak bisa berasumsi bahwa drone akan terus berjalan mulus tanpa kendala. Redundancy sendiri sudah lama digunakan di desain pesawat sipil dan sekarang berlahan diterapkan pada drone seperti Phantom 4 Pro dan Inspire 2.

Lalu apa itu redundancy?

Redundancy adalah rekayasa dalam engineering, dimana dalam sebuah unit terdapat duplikasi beberapa bagian yang penting untuk meningkatkan kemampuan unit tersebut serta berlaku sebagai backup jika salah satu komponen mengalami masalah.

Pada Inspire 2, terdapat IMU ganda dan 2 baterai (tidak sekedar untuk meningkatkan lama terbang). Kedua baterai tersebut dapat berfungsi bergantian jika salah satunya mengalami kerusakan dan memastikan drone mendarat dengan aman. IMU dan kompas ganda akan secara otomatis berpindah jika terjadi error pada salah satu perangkatnya.

Merespon maraknya produksi drone, undang-undang di seluruh dunia mulai mendorong produsen drone menetapkan setandar keamanan yang sama dengan perusahaan pesawat terbang. Drone terus berkembang, ada yang semakin besar, ada juga yang semakin kecil seperti Mavic dan Inspire 2. Industri terus berkembang dan beradaptasi membuat miniatur pesawat namun lebih cerdas lebih berat, lebih besar. Semakin menarik menanti masa depan industri drone.

Teknisi Emon

Teknisi Emon

Teknisi JogjaSKy

Artikel ditulis oleh teknisi Emon

Comments

comments

%d blogger menyukai ini: