Seiring dengan berjalannya waktu, teknologi drone dan teknologi pesawat penumpang terus berevolusi. Drone menjadi semakin kecil namun semakin canggih. Di sisi lain, sistem dalam pesawat penumpang juga menjadi lebih canggih. Di masa depan, bisa saja kedua teknologi ini saling melengkapi satu sama lain.

Pesawat penumpang merupakan mesin yang sangat rumit, dirancang oleh sekelompok insiyur sehingga masalah berupa bug pada sistem dan masalah-masalah lainnya masih sangat mungkin terjadi.

Dalam industri penerbangan, untuk menemukan dan memperbaiki seluruh bug pada sistem dibutuhkan waktu rata-rata 10 tahun. Inilah mengapa pesawat lama lebih aman dibanding pesawat baru.

Artikel ini bukan merupakan pernyataan resmi dari hasil penyelidikan NTSB dan KNKT mengenai penyebab kecelakaan pesawat tersebut, hanya analisa personal dari Jogja Sky mengenai apa yang terjadi pada Lion Air JT610.

Sebuah peringatan yang keluar dari Boeing Co. untuk para operator 737 Max di seluruh dunia memberikan informasi-informasi pertama mengenai kemungkinan bagaimana kesalahan data yang diberikan dari sensor aliran udara berkontribusi pada kecelakaan pesawat yang berakhir maut di Indonesia minggu lalu.

Pernyataan dari para penyidik Indonesia menyiratkan bahwa kedua pilot Lion Air 737 Max 8 berjuang melawan pesawat saat komputer memerintahkan untuk terjun dengan curam di beberapa menit terakhir penerbangan.

Boeing telah memperingatkan bahwa sensor yang bernama angle-of-attack bisa memberikan interpretasi yang salah dalam keadaan-keadaan tertentu, seperti ketika autopilot dimatikan, yang menyebabkan hidung pesawat 737 Max condong ke bawah untuk mendapatkan kecepatan yang dibutuhkan untuk tetap terbang menurut sistem.

Direktur Boeing telah menekankan kepada para pilot untuk selalu mengikuti prosedur di panduan penerbangan ketika menemui data yang keliru. Para pilot sudah seharusnya mengikuti protokol yang ada, meskipun akan menjadi sulit dalam keadaan dimana terjadi gagal sistem dan alarm-alarm berbunyi.

Regulator penerbangan di Amerika meneruskan dengan mengeluarkan perintah darurat pada hari Rabu yang mengharuskan maskapai penerbangan untuk mengikuti instruksi dari Boeing dan menambahkan informasi ke manual yang menunjukkan cara mendiagnosis dan merespon masalah. Maskapai akan diberikan 3 hari untuk memperbarui manual dibawah perintah Federal Aviation Administration (FAA).

FAA menyatakan bahwa masalah dari sistem ini adalah “bisa menyebabkan kru pesawat kesulitan mengendalikan pesawat dan berakibat pada nose pesawat yang turun secara berlebihan, berkurangnya ketinggian secara signifikan, dan kemungkinan menabrak daratan.”

Sensor dalam pesawat Lion Air telah diganti sehari sebelum terjadi kecelakaan di penerbangan sebelumnya, menurut Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Kegagalan sistem bisa menyebabkan komputer dalam pesawat mendeteksi masalah palsu di aliran udara saat penerbangan sehingga pesawat terjun secara tiba-tiba untuk mendapatkan kembali kecepatan yang dibutuhkan untuk tetap di udara.

Sumber: wartakota.tribunnews.com

KNKT juga mengatakan, di penerbangan sebelumnya yang bertujuan Denpasar – Cengkareng, terdapat perbedaan sensor angle-of-attack senilai 20 derajat antara data kokpit pilot dan co-pilot. Kedua pilot di penerbangan itu masih mampu mengatasi masalah tersebut. Sensor angle-of-attack yang telah diganti sehari sebelumnya tersebut telah dibawa dan akan diselidiki di Amerika Serikat.

Bisa saja FAA memerintahkan Boeing untuk merancang ulang alat atau perangkat lunak sementara para penyidik menghubungkan semua detail mengenai kecelakaan pesawat yang menelan 189 korban di 29 Oktober lalu. Perwakilan dari FAA menyatakan bahwa dibutuhkan tindakan lebih lanjut berdasarkan hasil penyelidikan yang ada.

Pertanyaan-Pertanyaan Baru

Informasi baru mengenai penerbangan Lion Air JT 610 ini menambah pertanyaan-pertanyaan baru bagi para penyidik untuk mencari tahu tentang tindakan para pilot saat itu, bagaimana pelatihan kepada kru, dan apakah perawatan sistem sudah cukup, ujar Roger Cox, mantan penyidik NTSB (National Transportation Safety Board).

“Tentu saja saya akan memperhatikan interface mesin dan bagaimana pilot meresponnya,” Ujar Cox, seorang mantan pilot yang pernah menerbangkan versi lama Boeing 737 dan penyidik spesialis tindakan di kokpit di NTSB.

Menurut Cox, salah satu hal yang membingungkan mengenai kecelakaan ini adalah pesawat sedang terbang di cuaca baik dan langit yang cerah, seharusnya pilot mampu menangani permasalahan yang mereka hadapi dengan kecepatan terbang dan kesalahan sensor. Namun, dalam keadaan tertentu, kecelakaan bisa saja terjadi karena ‘faktor kejut’. “Jika anda tidak bertindak dengan benar ketika anda terkejut, anda bisa saja membuat kesalahan fatal,” katanya. Data dari FlightRadar mengindikasikan kecepatan terbang Lion Air JT610 saat itu mencapai lebih dari 500 km per jam di ketinggian 2000 kaki. Padahal, regulasi penerbangan internasional membatasi kecepatan pesawat di 250 knot atau di bawah 500 km per jam ketika pesawat berada di bawah ketinggian 10.000 kaki.

Para pilot dari Southwest Airlines Co., maskapai dengan Boeing 737 Max terbanyak belum menerima laporan apapun mengenai masalah interpretasi sensor. Ini dinyatakan oleh Jon Weaks, presiden asosiasi pilot Southwest Airlines. Maskapai telah mengkonfirmasi bahwa belum ada masalah dari sensor dan ke-26 Boeing 737 Max yang mereka miliki masih beroperasi tanpa adanya gangguan.

United Technologies Corp. merupakan penyedia sensor-sensor angle-of-attack dan indikator untuk 737 Max, menurut Airframers.net. Honeywell International Inc. merupakan perusahan yang menyediakan unit referensi intertial data udara. Kedua perusahaan tersebut tidak memberikan komentar apapun mengenai kasus ini.

Pesawat Lion Air jatuh ke laut Jawa beberapa menit setelah lepas landas dari bandar udara Soekarno Hatta Cengkareng. Dengan nose pesawat yang turun secara mendadak, diperkirakan mencapai kecepatan lebih dari 900 km per jam sebelum menabrak permukaan air.

Beberapa saat sebelumnya, para pilot meminta untuk kembali ke Jakarta namun tidak sempat berputar kembali ke arah bandara, menurut data dari hasil pelacakan KNKT. Perwakilan KNKT mengatakan bahwa para pilot Lion Air JT610 menemukan kesalahan pada airspeed indicator.

Boeing yang berpusat di Chicago akan ikut bekerjasama dan bersedia memberikan bantuan teknis selama proses penyelidikan. Saham perusahaan Boeing naik sebesar 1,5% ke $372.02 di pasar trading di New York. Saham perusahaan ini naik 26% tahun ini, yang menjadikannya perusahaan dengan pendapatan terbesar keempat di antara 30 member dalam Dow Jones Industrial Average (DJIA).

Ketika pesawat-pesawat modern beroperasi dengan autopilot, sistem bisa dilepaskan ketika terjadi kegagalan pada airspeed indicator dan memaksa para pilot untuk menerbangkan pesawat secara manual. Jika terjadi penurunan nose pesawat secara tiba-tiba, pilot dapat memperbaiki keadaan dengan menekan saklar pada kendali yoke. Meskipun demikian, sistem pesawat akan terus mencoba terjun setelah pilot mengembalikan posisi saklar, menurut pengumuman dari Boeing. Kru pesawat harus mengikuti protokol untuk menghentikan tindakan yang berpotensi bahaya dari pesawat, para pilot harus menghapal prosedur untuk memisahkan data dari sensor angle-of-attack yang masuk ke sistem komputer pesawat.

Sensor angle-of-attack bertujuan untuk mengukur sudut antara aliran udara dengan garis referensi di badan dan sayap pesawat sehingga pesawat tetap terbang dengan baik. Jika aliran udara terganggu dengan terlalu rendahnya kecepatan atau menanjak terlalu curam, kegagalan aerodinamis bisa terjadi dan pesawat akan jatuh. Akan tetapi, jika terjadi kegagalan pada sensor, komputer pesawat akan mengira pesawat sedang dalam keadaan stall sehingga sistem akan memberi perintah kepada pesawat untuk terjun.

Sumber: wikipedia.org

Pilot menaikkan dan menurunkan nose pesawat Boeing dengan mendorong dan menarik tuas yoke di kokpit, yang mengendalikan panel pada ekor pesawat bernama elevator. Selain itu, sistem yang bernama pitch trim dapat dirubah untuk menggerakkan nose pesawat ke atas dan bawah dengan segera.

Sama halnya dengan drone, sebuah pesawat penumpang dilengkapi dengan sensor-sensor. Interpretasi data dari sensor-sensor ini dimasukkan ke komputer atau FC controller di drone. Ketika sensor-sensor ini mengirimkan data yang salah, keadaan akan menjadi runyam seketika. Dalam drone kemungkinan terbesar yang terjadi adalah drone akan jatuh, sedangkan dalam pesawat penumpang pilot harus mendeteksi kegagalan sistem dan mengambil kendali penuh pesawat sesuai prosedur.

Boeing Max 737 merupakan pesawat terbaru dan tercanggih saat ini dari lini 737. Boeing telah mengirimkan 219 pesawat 737 Max sejak debut tahun lalu dengan salah satu anak perusahaan Lion Air.

Pesawat yang masih baru pada umumnya masih fokus kepada pengembangan dan peningkatan efisiensi bahan bakar, keuntungan, dan yang paling utama, keamanan terbang. Dalam kasus Lion Air JT610, pengorbanan besar diberikan oleh para penumpang dan keluarga yang ditinggalkan karena berakhir pada tragedi yang menyedihkan.

 

sumber: Boeing Issues Bulletin for 737 Max After Indonesia Jet Crash – Bloombergquint.com

Comments

comments

%d blogger menyukai ini: